Search

Dewi Nur Aisyah

Sejernih cita, Sebening asa, Merajut cerita

Category

Sepenggal hikmah

Balada PhD Parents: Curhatan Emak yang (Masih) Sekolah

“A real mom: Emotional, yet the rock. Tired, but keeps going. Worried, but full of hopes. Impatient, yet patient. Overwhelmed, but never quits. Amazing, even though doubted. Wonderful, even in chaos. Life changer, every single day” (Rachel Martin)

—–

“Ayah, minggu depan kapan ke kampusnya?”

“Selasa mengisi acara di Exeter, Rabu sore baru kembali ke London, dan kamis ada supervisory meeting”, jawabnya

“Oke, kalau gitu bunda ngampus hari Senin dan Jum’at ya”

—–

Itulah percakapan yang selalu terjadi di setiap minggunya antara saya dan suami. Memfiksasi jadwal minggu depan! Dan itu teruuuus berulang. Tak jarang nego minta waktu tambahan, misalnya saat saya harus menjalani meeting di hari Rabu jam 6 sore, maka saya minta pak suami sudah harus di rumah jam 5 nya. Iya, itu adalah salah satu balada PhD parents, saat suami dan istri sama-sama menjalani PhD berdua. Iya ya, udah lamaaaa saya ga ngebahas perjalanan PhD saya, sebagai mahasiswa sekaligus istri dan ibu seorang putri. Saya belum cerita mengenai perjalanan PhD saya pasca suami menjalankan S3. Itu artinya, saya, suami, dan Continue reading “Balada PhD Parents: Curhatan Emak yang (Masih) Sekolah”

We are Strong for A Reason…

“Strength grows in the moment when you think you can’t go on but you keep going anyway” (unknown)

Seorang nenek tua tengah memanggul karung beras yang mungkin beratnya lebih dari 25 kg. Dengan perlahan, ia menapaki jalanan berbukit di pedesaan dalam. Sembari menyapa saat bertatapan dengannya, “Mbah, iku abot, kulo bantu nggeh?” (artinya, mbah itu berat, saya bantu ya). Lalu si mbah dengan keriput yang terlihat jelas di wajahnya tersenyum dan berkata “Rapopo. Sampun sakbendino. Kuat insya Allah…” (Gapapa. Udah biasa setiap hari. Kuat insya Allah). Dan ternyata, nenek itu hidup bersama 2 orang cucunya, sedang anak dan menantunya merantau ke kota. Maka ia tetap bertani dan memanen untuk membesarkan cucu yang dititipkan kepadanya.

———

Di siang terik panas, terdengar suara serak seorang kakek “Bale baleeee…. Balenya buuuu….”. Agak parau terdengarnya. Hingga akhirnya suara itu terdengar semakin jelas, dan dapat saya lihat sosok tua dengan keringat menderas di punggungnya menggotong sebuah bale (tempat duduk yang terbuat dari bambu) lewat di depan rumah. Kata ayah saya, istrinya terkena stroke dan bapak ini terkena PHK sejak 10 tahun lalu. Jadilah ia bekerja apa saja untuk menghidupi keluarga kecilnya, mulai dari Continue reading “We are Strong for A Reason…”

Antara Kecewa dan Iman Kita

“The moment we understand that Allah’s decision is always in our best interest, everything will start to make sense”

Catatan ini merupakan hasil kontemplasi saya sore ini (hayeuh gaya yak pake berkontemplasi segala 😀 ). Berawal dari sharing kisah pergi umroh yang seolah “Allah tak izinkan”, hingga beberapa hari kemudian Allah mudahkan si adik berangkat ke tanah haram. Sama persis dengan kisah ibu saya, saat Allah mudahkan keberangkatan ayah, mama dan papa mertua saya, namun visa ibu saya tidak keluar hari Sabtu sesuai dengan jadwal keberangkatan. Lemas ia mendapat kabar bahwa belum bisa berangkat, padahal saat itu sudah siap sedia di bandara. Tentu pedih yang memenuhi hatinya saat harus melangkah pulang ke rumah, sedangkan suami dan besan-nya dapat berangkat bersama. Banyak hal berkecamuk dalam pikirannya, mulai dari beliau yang tidak bisa berangkat tahun ini, kalau pun berangkat sendirian tentu akan bingung karena tidak ada teman, apakah nanti akan nyasar, dan lain sebagainya.

Tapi tentu takdir Allah adalah sebaik-baik rencana, Allah izinkan ibu saya pergi umroh hari Senin, 3 hari setelahnya. Meskipun pada akhirnya tidak ada teman yang dikenalnya, tapi justru beliau dapat beribadah dengan lebih khusyuk, sampai-sampai tak saya temui foto perjalanannya di tanah suci, hanya sebuah foto saat ibunda berada di dalam bus Continue reading “Antara Kecewa dan Iman Kita”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑