Search

Dewi Nur Aisyah

Sejernih cita, Sebening asa, Merajut cerita

Mitos Seputar Bayi Baru Lahir: Catatan Melahirkan di Inggris

“A new baby is like the beginning of all things – wonder, hope, a dream of possibilities” (Eda J. LeShan)

Sudah lamaaa sekali saya mau nulis ini, mungkin draftnya udah ada di kepala sejak dua tahun yang lalu, namun baru bisa terealisasi saat ini. Saya masih ingat betul bulan Januari tahun 2013 lalu, saat putihnya salju menghiasi jalan-jalan di London yang berliku. Saat dimana Allah juga izinkan saya dan suami menjadi seorang ayah dan ibu.

Si kecil lahir di Queen Elizabeth Hospital, setelah 41 minggu + 6 hari berada dalam kandungan. Saat itu, hanya kami berdua disana, pasangan muda yang akan menjalani masa-masa mendebarkan ini tanpa keluarga. Rasanya momen melahirkan adalah salah satu momen paling sakral setelah pernikahan. Bagaimana tidak? Seorang ibu sudah siap mengorbankan jiwa dan raga demi melihat bayi mungil itu terlahir di dunia. Sang ayah sudah harap-harap cemas terus berdoa kepada Sang Maha Kuasa, demi keselamatan istri dan anaknya.

Eh eh, bukan itu sih yang mau saya ceritakan, 2 paragraf di atas hanya intro. Saya mau menceritakan pengalaman saya setelahnya. Setelah melalui masa-masa H2C (harap-harap cemas) itu berdua saja. Saya akan menjawab beberapa mitos seputar bayi yang baru lahir, yang mungkin sudah turun temurun dilakukan di Indonesia. Continue reading “Mitos Seputar Bayi Baru Lahir: Catatan Melahirkan di Inggris”

Indonesia dan Budaya Membaca: Mari Belajar dari Negara Skandinavia

“The more you read, the more you know. The more that you learn, the more places you’ll go” (Dr. Seuss)

Pada sebuah PhD forum, mahasiswa PhD di Farr Institute berkumpul dan ngobrol-ngobrol (kongkow-kongkow kalau bahasa kita mah :D)

Maxine: Have you read the latest article mentioned about social media helps you to boost your research?
Victoria: Oh yeah, I saw it on twitter!

Lalu obrolan kami pun berlanjut membahas efektivitas sosial media untuk mempublikasikan hasil penelitian, hingga potensi blog, twitter, instagram, etc untuk menyebarkan hasil studi atau kajian. Lalu obrolan kami pun berlanjut ke topik yg lain,

Jane: I read a book about an astronaut’s life on space. It’s very interesting!
Me: What’s the title of the book?
Catherine: Oh yeah, I think I have already read it. Is it An Astronaut’s Diary by Jeffrey A. Hoffman? He mentioned about his experiences chosen to go on space and how it was going…

Obrolan di PhD forum memang cukup random, tapi serandom-random nya masih berkutat kepada hasil penelitian, buku yang menarik, atau update terbaru tentang Inggris. Continue reading “Indonesia dan Budaya Membaca: Mari Belajar dari Negara Skandinavia”

Balada PhD Parents: Curhatan Emak yang (Masih) Sekolah

“A real mom: Emotional, yet the rock. Tired, but keeps going. Worried, but full of hopes. Impatient, yet patient. Overwhelmed, but never quits. Amazing, even though doubted. Wonderful, even in chaos. Life changer, every single day” (Rachel Martin)

—–

“Ayah, minggu depan kapan ke kampusnya?”

“Selasa mengisi acara di Exeter, Rabu sore baru kembali ke London, dan kamis ada supervisory meeting”, jawabnya

“Oke, kalau gitu bunda ngampus hari Senin dan Jum’at ya”

—–

Itulah percakapan yang selalu terjadi di setiap minggunya antara saya dan suami. Memfiksasi jadwal minggu depan! Dan itu teruuuus berulang. Tak jarang nego minta waktu tambahan, misalnya saat saya harus menjalani meeting di hari Rabu jam 6 sore, maka saya minta pak suami sudah harus di rumah jam 5 nya. Iya, itu adalah salah satu balada PhD parents, saat suami dan istri sama-sama menjalani PhD berdua. Iya ya, udah lamaaaa saya ga ngebahas perjalanan PhD saya, sebagai mahasiswa sekaligus istri dan ibu seorang putri. Saya belum cerita mengenai perjalanan PhD saya pasca suami menjalankan S3. Itu artinya, saya, suami, dan Continue reading “Balada PhD Parents: Curhatan Emak yang (Masih) Sekolah”

Blog at WordPress.com.

Up ↑