Mencoba menuliskan kisah hikmah di tengah padatnya mengejar ketertinggalan deadline. Mencoba merangkum peristiwa, menuliskannya dengan tinta, agar kelak pembelajaran dapat dipetik disana, agar setiap kisah tak tergerus oleh lupa dan masa.

Pekan kemarin termasuk pekan yang sangat padat sebenarnya, di tengah mengejar deadline pencapaian studi, menyambut tamu, membantu liputan NET TV, menyiapkan program tarbiyah anak UK, serta membantu persiapan kegiatan KIBAR Spring Gathering 2015. Kembali berkecimpung dalam kegiatan KIBAR, dan kembali lagi diamanahkan untuk bermain bersama anak-anak usia 6-9 tahun. Bukan tentang itu yang ingin aku bagi, tapi perasaan haru dan syukur yang mengalir dalam diri.

Minggu, 4 Mei 2015

Laju kereta api dari Birmingham menuju London membawa kami menikmati suasana rerumputan padang hijau dilingkupi bukit-bukit kecil. Sesekali nampak hewan peternakan seperti sapi, kuda, kambing dan biri-biri sedang memakan rumput. Tak lupa padang kuning indah berisi bunga-bunga yellow rapeseed oil menambah sejuk suasana di tengah suhu 12 derajat Celsius. Terlibatlah aku dan suami membicarakan pengalaman KSG 2015 tahun ini.

Pemandangan yellow rapeseed oil flowers

Ada banyak kejutan, atau mungkin lebih tepatnya kasih sayang yang Allah berikan kepada kami. Aku mulai meniti sedikit demi sedikit doa yang terhempas dalam hati, dan ternyata Allah kabulkan melalui rencana-Nya yang lebih indah lagi. Pastilah kita senantiasa berdoa agar keistiqomahan senantiasa menemani hari, hingga akhir hayat saat ajal menjemput kita menuju dunia yang abadi. Sore itu aku merenung begitu dalam, bertasbih tiada henti, hingga genangan air mata membuat penglihatanku berkaca-kaca. Saat itu aku menyadari, bahwa kasih sayang Allah begitu besar menyelimuti diri. Tak sedetik pun Ia melepaskan genggaman-Nya, meski diri penuh khilaf tiada henti. Saat terkadang aku menghindari amanah atas alasan “akademis” atau “keluarga”, namun kembali Allah tuntun langkah kaki ini untuk senantiasa bekerja demi agama-Nya, membaktikan diri dalam perjuangan dakwah demi kebaikan semesta. Dan memang, tak bisa dipungkiri, diri ini pun sangat nyaman mengerjakan amanah-amanah dakwah, yang lagi-lagi, kebaikannya pun dirasakan kembali untuk diri sendiri. Berapa kali diri ini merasakan saat begitu banyak amanah dan tanggung jawab yang harus dikerjakan, begitu banyak pula kemudahan yang mengiringinya. Sebutlah 15-20 list things to do harian yang harus dijalani, dan ternyata Allah buat semua itu mudah untuk dipenuhi. 24 jam kita sama, namun ku rasakan berkah yang begitu mahal adanya. Adalah Ia yang menjaga kita, saat kita pun menjaga Allah senantiasa…

Hikmah kedua yang ingin aku bagi adalah kemurahan Allah memberikan jalan atas mimpi dan harapan, meskipun itu hanya berupa lintasan dalam hati, tentu melalui skenario-Nya yang tidak pernah terbayang dalam imajinasi. Entah mengapa, saya mendapat banyak kejutan dari suami. Saat bulan lalu ia terpilih menjadi Ketua Pengajian Lokaliti London (Al-Ikhlas), dan kembali lagi, minggu kemarin Allah tambahkan amanah menjadi Ketua KIBAR (Keluarga Islam Indonesia Britania Raya). Hal yang aneh dan tidak disangka. Lagi-lagi, semua terjadi atas kehendak-Nya. Kembali aku berkaca akan kapasitas diri, mengapa Allah memberikan itu dan ini, padahal begitu banyak salah, khilaf dan kekurangan pada diri. Kemudian kembali lagi menyadari, mungkin memang inilah bentuk jawaban atas doa kami, agar penjagaan terbaik senantiasa Allah berikan, menuntun langkah-langkah lemah ini…

Hikmah ketiga dan merupakan penutup adalah, skenario Allah selalu berjalan melebihi ekspektasi. Doa-doa besar dan kecil berbayar melalui jalan kehendak-Nya. Sebutlah lintasan kecil dalam hati ingin memperbaiki komunikasi sosial yang rendah pada diri, agar bisa lebih mudah berkenalan dengan orang baru dan menyampaikan kebaikan dan memetik pelajaran. Sebutlah lintasan angan ingin berkunjung ke beberapa kota di UK. Sebutlah desiran doa yang berharap agar suami lebih disibukkan dengan aktivitas dakwah dan kebaikan selama masa menunggu studinya dimulai. Sebutlah khusyuknya pinta agar anak tumbuh shalihat dan terbiasa mengikuti lelahnya perjalanan dakwah ayah bunda nya. Dan lihatlah, begitu banyak doa yang Allah jawab melalui skenario terindah-Nya. Semua ini kembali membuncahkan rasa haru dan syukur tiada henti. Kembali berkaca dan berkata, diri ini harus lebih banyak belajar lagi, berbenah diri. Tak henti merawat iman, menyuburkan ketaatan, serta menapaki anak tangga ketaqwaan hingga kita disampaikan pada surga-Nya bertabur keridhoaan. Inilah butir-butir hikmah bagi diri, agar dapat lebih banyak memberi, mengukir manfaat dan kemaslahatan bagi umat. Agar diri ini terus disibukkan dengan amal-amal kebaikan, sehingga terhindar dari kesia-siaan waktu luang…

Langsung ku teringat hadist arba’in favorit yang begitu melekat dalam hafalan sejak kelas 3 SMA:

“Ihfadzillaha yahfadzka, ihfadzillaha tajidhu tujaahaka, idzaa sa’alta fas’alillaha, wa idzas ta’angta fasta’in billah…”

Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu, jagalah Allah niscaya engkau mendapati-Nya di depanmu, ketika engkau memohon maka memohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan maka memintalah pertolongan kepada Allah…” (Hadist Arbain no. 19)

Demikianlah Allah dengan sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim nya begitu halus menegur ini diri, tetap mengulurkan tangan lembut-Nya membimbing langkah hamba agar tetap berada dalam jalan keridhoan ilahi. Tanpa bentakan, tanpa hinaan, namun begitu halus menyentuh iman dalam hati. Ya Allah, karuniakanlah kami hati yang tulus, agar memahami setiap takdir-Mu adalah yang terbaik bagiku. Karuniakan kami keberkahan usia, agar hanya kebermanfaatan yang tercatat pada lembaran amal di penghujung masa…

Foto bersama Kang Abik (Habiburrahman El-Shirazy)
Foto bersama Kang Abik (Habiburrahman El-Shirazy)

Sedikit kenangan dari KSG 2015, mungkin ini satu-satunya foto yang sempat saya ambil saat acara berlangsung. Alhamdulillaah ‘ala kulli hal ^_^

UCL, Farr Institute

London, 7 May 2015

Advertisements